Kamis, 18 Juni 2015

Tekad seorang renta di rimba Jakarta

Jam tangan seiko saya menunjukkan waktu pukul 15:00 utc yang berarti 22:00 wib saat ayla putih yg saya kendarai keluar melalui gerbang tol cawang. Seiring suara perut yang mulai keroncongan sayapun merubah arah mobil saya untuk menuju cililitan, tepatnya di deretan warung makan depan PGC. Setelah memarkir mobil dan memilih-milih akhirnya pilihan saya jatuh ke warung pecel lele lamongan yang memang terkenal paling pedas sambal bawangnya.

"Pakde, lele goreng 2, tempe + lalapan, nasinya uduk ga pake bawang goreng" ucap saya sambil membuka koran pagi yang memang disediakan oleh sang penjual. Tak lama berselang seorang kakek tua berjalan memasuki warung tenda tempat saya berada sambil menawarkan tissue wajah. Sesaat saya lambaikan tangan saya pertanda saya tidak tertarik dengan apa yg ditawarkan beliau, namun segera saya tarik tangan saya sambil menanyakan berapa harga tissue tersebut, toh hitung2 kebetulan di mobil juga kehabisan tissue.

Sang kakek mengambil tempat duduk di sebelah saya sembari menawarkan dagangan tissuenya yg terdiri dari beberapa ukuran, saya pun memilih ukuran besar sembari mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau;

Saya (S): jam segini masih muter pak, apa ga masuk angin?

Kakek (K): alhamdulillah pak masih kuat, mangga dipilih mau yg polos atau yg bergambar plastiknya

S: bapak tinggal dimana? Dengan keluarga?

K: saya tinggal dengan istri saya di bedeng daerah condet pak, anak2 di kampung.

S: bapak bukan asli jakarta? Istri bapak jualan juga?

K: saya dari kecil sudah merantau ke jakarta pak, kerasnya kehidupan jakarta membuat keluarga kami habis2an, sampai sekarang umur saya 80tahun lebih yaaa cuma begini pak, jualan tissue

Tak lama berselang, pesanan saya datang, sayapun menawarkan sang kakek untuk menemani saya makan sambil menawarkan menu yang ada dan melanjutkan obrolan kami...

K: duh pak, makasih banyak ini saya malah ditraktir makan

S: gapapa pak, sekalian temani saya ngobrol, ohya bapak jualan tissue modal berapa?

K: saya ga modal pak, saya ambil dari gudang di daerah kalibata, dicatat bawa berapa nanti lakunya berapa itu yang disetorkan, tissue yg kecil 2500 saya jual 3000, yang besar 9000, saya jual 10,000.

S: sehari bisa laku berapa tissue pak?

K: yaaaah, kadang 10 bungkus, pernah 30 bungkus, pernah juga ga laku sama sekali, di tiap perempatan lalu lintas pasti banyak yg jual tissue pak...

Sesaat saya berhitung, taruhlah rata rata 20 bungkus kecil, berarti si kakek hanya mendapatkan 10,000 rupiah

S: sehari bapak dapat segitu cukup pak?

K: yaaaaah, dibilang cukup sih ngga, dibilang ga ya cukup pak, gimana kita bersyukur aja sama Yang Kuasa, itung2 sambil olahraga pak mengisi hari tua, daripada jadi pengemis, toh saya masih kuat cari uang...

Done!!!! Hati saya tersentil mendengar ucapan sang kakek, beliau rela berjualan tissue dengan keuntungan 500 rupiah yang terkadang tidak beliau dapatkan saat kita menawar dagangannya di jalan, yaaah...uang 500 rupiah mungkin bukanlah apa apa untuk kita, sekedar mengisi celah kecil tempat recehan di mobil yang kadang kita lemparkan ke pengamen jalanan, "pak ogah" maupun para pengemis yang (siapa tahu) memang diorganisir dan ternyata punya rumah mewah di kampungnya.

500 rupiah ternyata memiliki arti yang begitu besar bagi seorang kakek tua penjual tissue yang tidak mau merendahkan dirinya dengan mengemis, seorang renta yang berjuang di rimba ibukota, mencari nafkah bagi keluarganya.

Aah, malu rasanya hati ini, saya belum cukup bersyukur, terkadang saya juga merasa bangga saat berhasil menawar dagangan dari para penjual seperti mereka....

Yah, obrolan pun ditutup dengan sebungkus nasi dengan lauk ayam goreng spesial yang saya titipkan untuk istri sang kakek. Seiring langkah saya meninggalkan beliau, terucap tekad dalam hati untuk lebih bersyukur serta seuntai doa untuk kesehatannya agar dapat melanjutkan perjuangannya menaklukkan rimba Jakarta...

Suatu malam di Cililitan

Selasa, 31 Maret 2015

Pangkat baru, tanggung jawab dan amanah yg semakin besar

Selasa sore 31 Maret 2015, cuaca yang cukup panas setelah diguyur hujan lewat yang meninggalkan seberkas pelangi di langit khatulistiwa. Saya sudah berada di rumah, beristirahat sejenak setelah seharian berkutat dengan raket bulutangkis, pekerjaan kantor dan beberapa laporan yang harus diselesaikan.

Setelah selesai menunaikan shalat ashar dan memanjatkan doa, pandangan saya tertumpu pada seragam PDH yang tergantung di balik pintu kamar saya, aaahhhh pangkat itu, pangkat Kapten yang beberapa jam lagi saya tinggalkan sesuai skep kenaikan pangkat yang saya terima TMT 1 April 2015 esok. Sayapun beranjak menuju seragam saya, melepaskan pangkat lama saya dan menggantinya dengan pangkat yang baru, sejenak saya termenung sembari mengucap syukur kepada Allah SWT, Maha Suci Allah yang telah meninggikan derajat umatNya satu tingkat lebih tinggi walaupun hanya berlaku di dunia yg fana ini. 

Pikiran sayapun berputar mengenang segenap perjalanan hidup yang masih melekat dalam memori saya, perjalanan hidup seorang kamto adi saputra, putra pertama dari 5 bersaudara, yang dilahirkan di sebuah rumah kontrakan mungil di pinggiran jakarta timur, anak seorang pegawai biasa dan ibu rumah tangga. 

Tak terasa, keharuan menghinggapi diri saya, teringat atas segala dukungan dan doa dari semua orang yang pernah dan tetap terhubung dengan saya. 
Terima kasih untuk Bapak & Ibu tercinta atas segala bimbingan, kasih sayang dan arahan selama hidup ini
Terima kasih untuk adik2ku yg selalu mendoakan, mengingatkan dan mendukung saya hingga saya dapat menjadi seperti sekarang
Terima kasih untuk istri dan anak2 serta seluruh keluarga tersayang atas semua dukungan dan doa selama ini
Terima kasih untuk senior, rekan dan adik2 sejawat atas arahan, bimbingan, dukungan serta doa yang selalu terpanjat untuk kebaikan kita semua
Terima kasih untuk semua yang selalu mencintai, menyayangi, mendukung dan mendoakan saya.
Tanpa kalian semua, seorang kamto adi bukanlah apa apa, mungkin hanya sebuah nama tanpa arti. Walaupun saat ini mungkin saya belum berarti buat orang lain, at least saya sangat berarti bagi diri saya sendiri...

Well.... pangkat baru sudah terpasang lengkap, sebuah melati yang menjadi simbol seorang perwira menengah TNI, semoga saya dapat memberikan keharuman bagi diri saya, keluarga, masyarakat hingga akhirnya bangsa dan negara. menjadi tidak hanya seorang perwira, namun juga seorang ksatria yang tentunya tidak akan bercahaya tanpa dukungan dan doa dari orang orang tercinta....




Selasa, 03 Maret 2015

UAV (UNMANNED AERIAL VEHICLE) BUKAN SEKEDAR REMOTE CONTROL “MAINAN” YANG BERPERAN UNTUK MENJAGA KEDAULATAN NKRI

Bagi kita yang berkecimpung atau penyuka segala halyang berbau dirgantaramestinya tidak akan asing mendengar istilah UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau yg dikenal juga dengan nama “drone” dan sudah di-Indonesiakan menjadi istilah pesawat nirawak atau pesawat terbang tanpa awakSemakin majunya teknologi kedirgantaraan saat inimendorong berbagai pabrikan dunia untuk meneliti dan memproduksi berbagai alutsista baik yang dipakai untuk mendukung kegiatan sampai dengan menjadi alat perang dengan kemampuan super canggih yang bahkan mampu dikendalikan dari jarak jauh baik menggunakan gelombang radio atau bahkan dengan menggunakan gelombang satelit

Bermula dari hanya sekedar remote control mainanteknologi pesawat terbang nirawak berkembang demikian pesatnya hingga sampai dengan saat ini, yang awalnya hanya digerakkan oleh tenaga battery, meningkat menjadi engine berbahan bakar premium atau avigas sebagai tenaga penggeraksampai dengan menggunakan hydrogen, solar cell sampai dengan tenaga nuklirTidak hanya itukemampuan para pesawat hantu inipun semakin menghebohkantengok saja apa yang di lakukan RQ-2B Pioneer, MQ-9 Reaper, atau MQ-1 Predator yang merupakan jenis UAV paling popular dan dapat dipersenjatai dengan rudal Hellfire, beberapa tahun belakangan sering digunakan CIA untuk memukul sasaran darat di daerah konflik seperti Afghanistan, PalestinaIrak, Iran sampai dengan wilayah AfrikaMereka sukses melaksanakan misi misi pengintaianpemotretanpencarian target bahkan penghancuran sasaranmembubuhkan serangkaian coretan sejarah dalam konflik dan peperangan terutama di wilayah timur tengah tanpa kita tahu dimana sebenarnya sang pilot beradaBahkan sebuah laporan dari Biro Jurnalisme Investigatif di City University di London menyampaikan informasi yang menyebutkan bahwa sebagian besar dari 1.842 orang yang  tewas sejak 2008 selain militan terdapat 218 warga sipil. Pada bulan Oktober 2009, CIA mengatakan mereka telah menewaskan lebih setengah dari 20 tokoh Al-Qaeda tersangka teroris yang paling dicariMenurut The Times Scott Shane, CIA mengatakan bahwa sejak Mei 2010 drone/UAV telah menewaskan lebih dari 600 militan di Pakistan dan bukan noncombatant tunggal. Pada sebuah laporabulan Mei 2010, pejabat kontra-terorisme AS mengatakan bahwa pesawat tak berawak telah melakukan serangan di Pakistan dan telah menewaskan lebih dari 500 militan sejak 2008. UAV kini menjadi pesawat andalan negara AS, dimana beberapa tokoh tersangka teroris besar seperti Atiyah Al-Rachman dan Anwar Al-Awlaki telah tewas diserang Predator.

 

Penggunaan UAV dalam misi-misi pengintaian atau bahkan penyerangan juga sangat berguna untuk meminimalisir kerugian baik korban jiwa maupun materiilterlebih rasa malu yang ditanggung oleh Negara sang pencetus operasi jika sampai sang pilot tertembak jatuh maupun tertangkap oleh pihak lawanSimak saja bagaimana Negara kita mendapatkan hak atas pembelian pesawat C-130 B di tahun 60an, tentunya tidak terlepas dari tertangkapnya Mr. Allen Lawrence Pope seorang pilot USA yang direkrut CIA, sedang berada diIndonesia dan bergabung bersama AUREV menggunakan B-26 Invader untuk menyerang kapal patroli TNI AL, atau berita terbaru tentang tertangkapnya pilot pesawat tempur F-16 YordaniaMuath al-Kasaesbeh yang dieksekusi dengan dibakar hidup-hidup oleh ISIS, pastinya menyisakan duka mendalam bagi keluarga bahkan koleganya di Squadron tempurnya

Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara yang memiliki luas wilayah sedemikian besar dan berbatasan langsung dengan beberapa Negara tetangga tentunya sudah memikirkan langkah-langkah terbaik dalam menjaga kedaulatannya, pos-pos penjagaan di wilayah perbatasan sudah disebar dan dijaga oleh personel TNI AD, kapal kapal patroli TNI AL juga tak kalah sibuk menjaga perbatasan laut dan tentu saja TNI AU dengan pesawat pesawat intainya menjaga kedaulatan udara dari Sabang hingga MeraukeNamun yang perlu kita pikirkan adalah bahwa seluruh alutsista tersebut pastinya memiliki endurance dalam melaksanakan misi penerbangan dan patrol lautbelum lagi para personel yang mengawakinyadisinilah peran UAV dapat berjalan meneruskanmendampingi atau bahkan menggantikan peran sebagai pesawat pengintaiSebagai ilustrasijika kita mengoperasikan pesawat UAV MQ-1 Predator dengan kemampuan surveillance & reconnaisance standartpesawat ini memiliki kemampuan radius jelajah hingga 450nm, kecepatan jelajah 135 knots dengan ketinggian jelajah sampai dengan 25.000 kaki, bahkan dengan endurance kurang lebih 40 jam tentunya akan dapat mengurangi beban kerja dari para pesawat pengintai yang hanya beroperasi maksimal selama 4-5 jam sajaJika satu pesawat mampu menjelajah dengan radius 450nm, mungkin secara hitungan kasar hanya dengan menempatkan empat spot GCS (ground control station) di Medan, Pontianak, Sulawesi Selatan dan Biak Numforseluruh wilayah Indonesia akan dapat termonitor secara langsungData intelijen juga dapat langsung diolah untuk menentukankebijakan lebih lanjut bagi satuan pelaksana di bawah kendali operasional TNI, baik untuk pengamatan lebih lanjutpenindakan bahkan penghancuran sasaran. Di samping itu, kemampuan melakukan infiltrasi serta akurasi data lapangan sangat penting baik dalam sebuah operasi anti gerilya, anti teror serta dalam sebuah pertempuran. Bahkan untuk mencari kelompok separatis di daerah hutan dan pegunungan nampaknya bukan hal yang sulit dengan teknologi UAV, karena pengamatan udara tidak terkendala dengan beratnya medan. Inilah pentingnya intelijen udara bagi sebuah operasi militer dan penegakan hukum.

TNI AU saat ini sudah mulai menggunakan teknologi UAV sebagai salah satu unsur kekuatannya untuk melaksanakan misi surveillance di daerah perbatasan. BPPT dan PT. Dirgantara Indonesia juga sudah mulai mengembangkan teknologi UAV dengan dibuatnya beberapa prototype yang sampai dengan saat ini masih giat dilaksanakan pengembangan guna meningkatkan spesifikasinya. Kita doakan sajasemoga ke depan dengan makin berkembangnya teknologi pesawat nirawak serta canggihnya kemampuan penginderaan yang dapat dilakukan oleh pesawat pesawat pengintai tersebutdapat mendorong pemerintah untuk giat mengembangkanmemajukan dan menggunakan pesawat pesawat nirawak dalam berbagai bidangbaik untuk pengembangan pertanianpengawasan perikanan hingga bidang pertahanan sebagai penjaga kedaulatan.

Senin, 09 Februari 2015

what makes daddy proud...



sebagai seorang ayah, gw sadar sepenuhnya klo gw masih banyak kekurangan dan blm bisa menjadi seorang ayah idaman... gw baru bisa beliin mainan barbie KW atau playdoh versi china di gembrong. jalan-jalan ke mall pun dengan syarat dan ketentuan berlaku semisal pilih kue camilan atau es krim (harus salah satu), maupun beli mainan atau main di playground.

dengan beban kerja gw sebagai pegawai negeri yg tentu saja blm bisa sewaktu-waktu mendampingi anak anak tentunya banyak menuai kritikan terutama dari ibunya. dari hal mengaji, shalat, sampai belajar mengerjakan PR dari sekolah, even gw punya prinsip sendiri yg gw dapat dari orang tua gw, sebelum anak berumur 7 tahun, kita bisa mengajak mereka dengan himbauan atau bahkan reward. tapi setelah menginjak usia 7 tahun, wajib hukumnya utk melaksanakan semua atau dihukum. kadang memang gw bersikap keras bahkan sedikit membentak, dan itu semua gw lakukan untuk menanamkan disiplin dan rasa tanggung jawab ke anak anak gw, dan gw tahu persis seberapa porsi kegalakan gw buat anak anak, yang jelas ga mungkin sama dengan porsi kegalakan gw terhadap anggota gw 😅😅😅.

pernah gw dapat kritikan, si kakak yg dah 5 tahun lebih blm bisa naik sepeda roda 2, daaaan itu totally merupakan tanggung jawab gw sebagai bapaknya. yaaaaaa bukan salah gw langsung, dasar si naresh juga yg males malesan dan ga mau belajar, belum lagi memang waktunya yg belum ada buat ngajarin. tapi gw bilang sama istri gw, gw bisa ngajarin naresh dg cepat dan gw bakalan buktikan 😡😡😡😡, di sinilah ego gw sebagai laki-laki, sebagai bapak, sebagai tentara, sebagai instruktur muncul... (ibarat hulk klo lg marah baru keluar kekuatannya 😅😅😅😅)

khusus anak gw yg satu ini memang agak spesial, harus pake kombinasi kasih sayang, pengayoman dan kekerasan  dalam porsi yg tepat. bolehlah istri gw yg psikolog pake teorinya, tapi gw juga pake pengalaman doong 😎😎😎😎

sesi 1: disini gw ajarkan teori bersepeda, bagaimana mengambil ancang2 sebelum mengayuh sepeda, bagaimana maintain direction, bagaimana mempertahankan kondisi pesawat, sorry maksud gw sepeda dalam keadaan lurus.

sesi 2: gw mulai kasih praktek sekaligus pengenalan emergency condition beserta immediate action, gimana klo tiba2 selip, gimana klo mau belok trus stuck dan jatuh ke samping serta bbrp kondisi yg mgkn diakibatkan klo pas kebetulan jatuh (kalo yg ini sekalian praktek jatuh plus luka beneran tanpa disengaja).

sesi 3: di sesi ini gw kasih pembekalan dan motivasi bahwa klo mau bisa naik sepeda ya harus berani ambil resiko terjatuh, tapi klo sekali bisa naik sepeda, lo mau naik sepeda model apa juga bakalan bisa, dan si nareshpun bisa mencerna apa yg gw sampaikan.

sesi 4: praktek lanjutan dimulai, masih gw pegangin dr belakang dan sesekali gw lepas sambil tetap gw kasih semangat seolah-olah gw masih pegang dari belakang, sesekali dia lihat kebelakang dan BRUAAAAK!!!!! naresh pun kembali terjatuh 😱😱😱😱😱

sesi 5: penguatan kepercayaan diri, di sini gw pompa kepercayaan dirinya bahwa dia bisa naik sepeda, sudah bagus tapi bisa ditingkatkan lagi, kata kata gw masuk dan dia bersemamgat lagi...

sekali, dua kali dan yang ketiga... akhirnya dia bisa naik sepeda, awalnya memang track lurus, pelan pelan gw suruh muter tanpa berhenti nggenjot pedal dan akhirnya dia pun bisa 😊😊😊😍😍😍😍😍

seulas senyum kebanggaan pun terlihat dari wajah putri sulung gw ini, bangga kalau dia sdh bisa naik sepeda roda dua, bangga kalo dia bisa menunjukkan kebisaannya, dan orang yg paling bangga adalah gw, bapaknya 😜😜😜😜

ga ada yg lebih membanggakan kita selain mereka yg berada di bawah bimbingan kita bisa berbuat sesuatu yang walaupun tidak seberapa namun bisa menimbulkan kebanggaan untuk mereka dan terutama kita yang menjadi pembimbingnya...

ibarat seorang panglima perang atau presiden sekalipun, mereka BUKANLAH orang orang hebat, yang paling hebat justru beliau2 yang membentuk para pembesar2 itu menjadi apa yg sekarang kita lihat, ibarat sebuat kursi jati yg antik atau lukisan terkenal, bukan kursinya atau lukisannya yg hebat, tetapi sang maestro pembuatnyalah yg hebat!!!

sekelumit pemikiran yang semoga bisa dijadikan motivasi bagi kita para orang tua untuk menjadi HEBAT, dengan menjadikan anak2 kita orang2 hebat...

wassalam...

Selasa, 27 Januari 2015

Pejabat vs Pilot pesawat

Saya merepost tulisan Ustadz Ahmad Sarwat sebagai pengaya pengetahuan kita serta utk bahan instrospeksi diri, sudahkah kita bertindak sebagai pejabat sekaligus pilot, at least utk diri kita sendiri?

Pejabat vs Pilot Pesawat
Mon, 17 Jan 2011

Tiap kali naik pesawat terbang saya selalu kagum melihat manajemennya. Dan suka membandingkan bagaimana sebuah penerbangan diurus oleh orang profesional, dengan bagaimana sebuah negara (baca : Indonesia) diurus oleh pemerintahan yang tidak becus.

Dan keduanya memang jelas jauh berbeda. Sebagai penumpang kita tidak pernah melakukan pilkada atau pemilu untuk menetapkan siapa yang jadi pilot kita, bahkan lihat wajahnya pun belum pernah. Tetapi sudah bisa dipastikan, pilot itu adalah orang yang ahli mengerjakan tugasnya, mengantarkan para penumpang dengan selamat tiba di tujuan.

Kita juga tidak pernah melihat segerombolan pilot melakukan kampanye sambil menggelar dangdut di lapangan terbang, dengan niat agar para penumpang memilih diri mereka, dengan alasan biar demokratis. Kita juga tidak pernah menyaksikan bandara dipenuhi spanduk dan poster bergambar wajah calon para pilot, seperti umumnya kalau kita mau menetapkan siapa yang jadi pejabat di negara ini.

Pernahkah Anda dapat pembagian kaos, mug, kalender, dan berbagai asesoris bergambar calon pilot pesawat yang mau anda tumpangi? Pasti belum pernah, kan? Ya, dan memang tidak akan pernah ada kejadian seperti itu.

Dan kita tidak pernah tahu ada acara debat para calon pilot yang isinya cuma saling menjatuhkan dan saling mencela antara satu calon pilot dengan pilot lainnya, tentang mau bagaimana penerbangan yang akan ditempuh.

Kenapa semua itu tidak ada?

Jawabnya karena seorang pilot yang handal memang tidak akan pernah lahir dari hasil pemilihan, baik pemilu atau pilkada. Pilot yang dibutuhkan dalam sebuah penerbangan hanya bisa didapat lewat pendidikan berkualitas dan tentunya amat berat dan waktunya lama. Hanya siswa yang dinyatakan lulus saja yang boleh akhirnya jadi pilot.

Herannya, kalau sekedar untuk membawa terbang 400-an penumpang saja dibutuhkan keahlian pilot sampai segitunya, kok untuk memimpin sebuah negara dengan penduduk 230 juta, tidak ada syarat pendidikan apa-apa?

Segitu gampangkah mengatur negara sehingga siapa saja dianggap berhak mencalonkan diri, demi sepenggal kata : hak asasi? Dan konyolnya, kok bisa sampai ada keyakinan bahwa seorang pemimpin akan didapat lewat pemilu atau pilkada?

Saya teramat heran dan tidak habis pikir. Tanpa pemilu atau pilkada (atau mungkin lebih enak kita sebut pilpilot kepanjangan dari pemilihan pilot), kita mendapatkan para pilot yang handal dan bekerja optimal. Mereka ahli di bidang nyopir pesawat, tanpa harus berkampanye "serahkan pada ahlinya". (sory bang Foke).

Dan ternyata mereka memang ahlinya dalam arti sesungguhnya. Bahwa si pilot itu ahli nyopir pesawat, memang bukan sekedar janji kampanye, tetapi mereka sebelumnya wajib sekolah pilot, ikut berbagai macam ujian dan uji kelayakan. Kalau bisa lulus dari semua itu, barulah boleh jadi pilot. Itu pun harus punya SIM (surat izin menerbangkan pesawat?), dan kalau belum tentu tidak boleh terbang alias tidak boleh jadi pilot.

Coba bandingkan dengan pilot pemerintah baik pusat atau daerah. Dengan alasan demokrasi, `pilot` propinsi, kota madya atau kabupaten dan lainnya tidak diharuskan sekolah dulu. Dan memang tidak ada sekolahannya, setidaknya tidak disyaratkan untuk lulus dari sekolah tertentu untuk bisa nangkring di jabatan itu.

Yang penting, dia berhasil mendapatkan suara pemilih, bagaimana pun caranya, termasuk kasak kusuk busuk. Jadi jelas banget perbedaan hasil kepemimpinan pilot dengan pejabat. Yang satu pakai sekolah dan ujian dulu, lama dan berat, sedangkan jadi pejabat mudah sekali, asalkan ada partai atau setidaknya `koneksi` dan `loby` yang mendukung, atau punya bargaining (posisi tawar) yang kuat, dan tentu saja harus ada uang buat belanja (bukan lagi beli) suara, jalannya bisa mulus untuk jadi pejabat.

Sebelum terbang, kita memang bisa dengar si pilot ngomong ; This is your captain bla bla bla, dan itu adalah informasi tentang siapa nama di pilot, lalu kita mau kemana, berapa lama penerbangan, transit dimana, terbang dengan ketinggian berapa, cuaca nanti seperti apa, perkiraan mendarat jam berapa, perbedaan waktu antara tempat tujuan dan tempat asal dsb dsb.

Nah kalau `pilot` pemerintahan, tidak pernah memberi informasi apa-apa, kecuali janji-janji doang. Nanti kita akan ini, akan itu, akan anu, sampai bosan mendengarnya. Dan semua rakyat tahu semua cuma janji surga, tak satu pun yang kesampaian. Janji nanti kalau saya sudah jadi pejabat, kita akan habisi koruptor, eh ternyata malah dia yang jadi godfather koruptornya. Janji nanti kalau jadi pejabat, akan bebas banjir, eh justru semakin parah banjirnya. Kayaknya kita tidak pernah dijanjikan ini dan itu oleh pilot pesawat kita.

Belum pernah ada pilot bilang kepada penumpang : kita akan segera terbang tinggi ke langit keluar dari atmosfir dan insya Allah akan melewati bulan dan bintang! Belum pernah pilot bikin janji-janji macam itu.

Satu lagi yang menarik, saya belum pernah dengar ada pesawat kehilangan kabel, atau layar LCD, kursi atau perlengkapan lainnya, gara-gara ditilep oleh pilotnya.

Saya juga belum pernah dengar pramugari tidak rata membagikan makanan, hanya gara-gara jatah makanan buat penumpang dilahap habis oleh kru pesawat. Yang saya tahu, sebelum para pramugari pesawat makan, para penumpang dulu yang dilayani masalah makannya. Kita belum pernah dengar ada penumpang kelaparan gara-gara para pramugari makan duluan, kalau ada sisanya barulah dibagikan kepada penumpang yang masih saudara dengan para pramugari itu.

Saya juga belum pernah dengar ada lauk pauk dalam paket makanan buat penumpang yang ditilep oleh pramugari. Atau misalnya setelah makanan dibagikan, lalu kita disuruh menyerahkan salah satu makanan sebagai `upeti` atau uang pelicin buat para pramugasi. Asli belum pernah dengar.

Tapi kalau uang buat rakyat dimakan dan dibagi-bagi sesama pejabat dan PNS di suatu kementerian, rasanya sih sering dengar, terlalu sering bahkan. Lewat berbagai macam aksi tipu-tipu, seperti mark-up, uang dinas, uang perjalanan, bahkan gaji buat PNS yang sudah meninggal 10 tahun lalu masih saja bisa cair dan turun, entah bagaimana triknya, pokoknya duitnya cair.

Bayangkan, para pejabat itu `menelan` apa saja yang bisa ditelan, sampai jatah makanan buat rakyat miskin pun disikatnya juga. Dan sumbangan buat rakyat sudah biasa mengalami `sunatan masal`, dimana jatah dari atas dikucuri 10 juta, karena lewat berbagai jalur birokrasi, ternyata sampai tangan rakyat tinggal 10 ribu, itu berbulan-bulan tertahan. Tetapi kwitansinya tetap 10 juta.

Dan sintingnya, penilepan seperti itu terjadi juga dalam kasus bantuan sosial buat korban bencana alam, baik di Aceh mau pun daerah bencana lain. Sungguh benar-benar bencana nasional.

Rakyat dan Penumpang Pesawat

Saya sering membandingkan kita sebagai bagian dari rakyat negeri ini, seharusnya diperlakukan sebanding dengan penumpang pesawat. Sebagai penumpang, kita beli tiket pakai uang kita. Dan imbalannya, selain diantarkan sampai ke tujuan dengan selamat, sepanjang perjalanan kita dilayani mulai dari urusan yang masuk ke perut sampai yang keluar dari perut.

Para awak pesawat akan melayani kita dengan senyum ramah, dan kita tinggal bilang, minta jus, teh, kopi, cola dan apa saja, mereka dengan senang hati memberikan. Kecuali kalau pesanannya rada nyentrik, seperti pesan gado-gado kacang mede plus es teler, kemungkinan besar nggak ada.

Tapi coba lihat gaya para pejabat itu, meski mereka kita bayar, boro-boro melayani kita dengan senyum, yang ada urusan surat-surat kita pun (masih saja) dipersulit. Padahal mereka itu kan pelayan rakyat, bukan raja yang minta dilayani. Pejabat-pejabat itu harusnya jadi seperti pramugari pesawat, kalau kita butuh bikin dan perpanjang KTP, bikin KK, perpanjang STNK, pajak dan sebagainya, seharusnya kita duduk manis di rumah sambil nonton TV, dan mereka yang mondar mandir ke rumah kita untuk melayani.

Bukan sebaliknya, kita yang disuruh bolak-balik keluar masuk kantor mereka, yang juga belum tentu ada di tempat, karena ada rapat atau malah lagi liburan ke luar negeri. Buat saya, mereka itu bukan pelayan rakyat, tetapi sebaliknya malah jadi raja yang minta dilayani oleh rakyat.

Apalagi kalau pejabat pusat mau kujungan ke daerah, wah ibarat mau menyambut raja. Semua persiapan mulai dari hotel, tiket, jalan-jalan, oleh-oleh dan sebagainya, harus disiapkan oleh para bawahannya. Para pejabat itu hanya baru akan hormat kalau bertemu dengan rakyatnya yang kaya dan pengusaha, karena bisa dijadikan rekan atau pendukung saat kampanye atau pilkada.

Kalau rakyat miskin yang kurang makan dan serba kekurangan, biasanya hanya dibutuhkan saat janji kampanye. Setelah menang dan naik tahta, semua sudah lewat begitu saja. Bandingkan dengan para pramugari pesawat, mereka melayani para penumpang, tidak pernah pilih-pilih, apakah penumpangnya itu orang miskin atau orang kaya, bahkan meski pun penumpangnya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (TKW), tetap saja dilayani dengan rata dan adil.

Sebab buat pramugari, semua penumpang tanpa terkecuali, adalah raja yang harus dilayani. Kalau perlu, pramugari yang cantik-cantik itu kita suruh manjat kursi angkat koper ke atas kepala. Memang sudah tugasnya, mereka malah senang bisa membantu para penumpang.

Dan sebagai penumpang kita berhak mendapatkan pelayanan itu, karena kita kan sudah beli tiket. Dalam bernegara, uang beli tiket pesawat kira-kira sama pajak yang kita bayarkan. Sengaja atau tidak sengaja, rakyat adalah pembayar pajak. Sebab waktu kita makan di restoran pasti kena pajak, waktu kita bayar listrik juga kena pajak, waktu kita nonton TV lagi-lagi kena pajak, bahkan sekedar punya tanah dan rumah yang 100% kita beli dengan uang kita sendiri pun, kita terkena pajak juga.

Wajar dong kalau kita berhak mendapatkan pelayanan dari para pejabat dan pegawai negeri, karena gaji mereka itu kan kita yang bayar. Harusnya lurah, camat, bupati, gubernur, menteri dan presiden itu kita suruh angkat koper, kalau haus kita suruh mereka tuang minuman buat kita, kalau kita lapar kita panggil dan kita suruh menyiapkan makanan. Itu tugas mereka dan untuk itulah mereka dibayar. Bukannya malah jadi raja badut atau backing mafia, yang kerjanya memeras rakyat, menipu, menilep uang, mengkorup, menjarah kekayaan negeri.

Pejabat model begini sebenarnya hanya pelanjut generasi dari kompeni Belanda yang memang penjajah. Kulitnya saja yang beda, tapi kelakuannya sama saja, bahkan penjajah yang masih bangsa sendiri itu kadang lebih kejam dan lebih zalim kepada rakyat. Kadang saya bilang, sudah bagus ada anak yang bilang bahwa kalau dirinya sudah besar mau jadi pilot.

Ya, silahkan jadi pilot, asalkan jangan jadi pejabat, kerjanya jadi penguasa makan uang rakyat. Kalau tidak haram setidaknya syubhat, bagaimana mau selamat di akhirat?