Sabtu, 26 April 2014

33th my age 😇



sungguh suatu kondisi yang sangat tidak mengenakkan, betapa tidak... 26 April 2014, hari ini genap usia saya 33 tahun, tetapi apa daya sy tidak bisa pulang berkumpul dengan keluarga terutama anak2 yg pastinya sangat merindukan saya...

pukul 23:47wib, diujung jalan malioboro, Jogjakarta saya duduk sambil merenung, apa yg sudah saya lakukan selama ini? apa yang sudah saya persembahkan untuk orang2 yang saya cintai? apa yg sudah saya lakukan untuk negeri tercinta ini? banyak pertanyaan yg berkecamuk di benak saya...

tidak!! apa yg saya lakukan belum cukup, belum bisa membuat seorang kamto adi saputra berbangga karena telah berbuat sesuatu. di samping saya duduk sekumpulan anak2 "berada" yang sedang menikmati malam sambil bermain domino dan menikmati bir kalengan, sementara tidak jauh dari mereka seorang bapak tua renta sedang menggelar tikar usang di emperan toko bersiap untuk tidur, aaahhhh sungguh kondisi yg sangat ironis menurut saya.

ada rasa malu saat saya mencoba bertekad, tapi saya sadar bahwa semua berawal dari mimpi, berawal dari tekad yang kemudian kita aplikasikan dalam perbuatan...

saya harus bisa dan saya pasti bisa...
menjadi pribadi yang lebih baik
menjadi sosok yang lebih bijak
menjadi manusia yang lebih berguna
menjadi seorang kapten pnb kamto adi saputra seutuhnya, inshaa Allah...



malioboro, 26-4-2014
23:58wib

Senin, 21 April 2014

Wingday Sekolah Penerbang TNI AU A-85


Gemuruh sangkakala mengiringi langkahmu
disaksikan keluarga dan handai taulan
di lembah merapi dan merbabu
engkau awali pengabdian bagi bangsamu...

selamat datang di medan tugas adikku
semoga Sang Khalik senantiasa mengiringi kepak sayapmu...

sepenggal puisi di atas hanya sedikit dari ungkapan rasa bangga yang bisa saya keluarkan dari hati saya, atas keberhasilan adik2 saya menyelesaikan pendidikan sekolah penerbang di lanud adi sucipto. tiada kata selain ucapan syukur dan bangga sebagai senior, kakak dan calon instruktur penerbang karena dapat melihat keluarga adik2 saya menyematkan wing penerbang di dada anak-anak mereka. 

sekali lagi saya ucapkan selamat dan sukses, medan tugas menanti kalian, 

jadilah penerbang sejati, pengawal dirgantara nusantara Indonesia...





Minggu, 09 Februari 2014

Semua terjadi karena suatu alasan, catatan seorang calon astronot NASA

Aku menang karena aku kalah

catatan seorang calon astronot NASA
-------------------------------------------------------------------------------- 

Semua dimulai sebagai impian, aku ingin menjadi astronot, aku ingin terbang keluar angkasa. Tapi aku tidak memiliki”hal yang tepat”, aku tidak memiliki gelar dan aku bukan seorang pilot. Lalu terjadilah! Gedung putih mengumumkan pencarian warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51 * L pesawat ulang alik challenger dan warga itu adalah seorang guru. Pada hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington.

Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabul ! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku ! Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA melakukan tes fisik dan mental. Saat tes selesai aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Aku akhirnya menerima pangilan yang telah lama ku dambakan dan kumohon dalam doa. NASA memilihku untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, menjadi 10.000 orang dan akhirnya aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian terakhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, eksperimen mabuk udara. Mana diantara kami yang melewati ujian akhir ini ? Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, aku berdoa. Aku sangat menginginkannya. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christa McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Depresi, rasa percaya diri lenyap dan rasa marah menggantikan kebahagiaanku saat aku mempertanyakan semuanya; Kenapa Tuhan, kenapa bukan aku ? Bagian diriku mana yang kurang ? Mengapa aku diperlakukan kejam ? Aku berpaling kepada ayahku, dia berkata, “Semua terjadi karena suatu alasan”.

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran challenger. Saat pesawat itu melewati menara ladasan pacuan, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan aku mau melakukan apa saja agar ada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku ? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat challenger meledak dan menewaskan semua penumpangnya.

Aku ingat kata-kata ayahku, “SEMUA TERJADI KARENA SUATU ALASAN” Aku tidak terpilih untuk penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena rencana Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidupku. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang, Aku menang karena aku telah kalah. Aku masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena semua doaku tidak terkabulkan.





Rabu, 22 Januari 2014

persahabatan yg indah

Suatu waktu saya dan beberapa teman saya pergi ke Jogja IT Center untuk mencari software dan antivirus, setelah sampai disana kamipun berpencar mencari kebutuhan masing-masing dan tak lupa sepakat untuk bertemu kembali di foodcourt sekalian makan malam. setelah mendapat beberapa barang yang saya butuhkan, sayapun langsung menuju foodcourt untuk menunggu rekan-rekan saya sembari memesan nasi goreng seafood.

Dikala saya sedang menikmati makan malam, terdengar suara tawa dari meja di belakang saya yang walaupun tidak terlalu keras namun cukup memecah konsentrasi saya. Sejenak saya menoleh untuk melihatnya, dan ternyata memang beberapa remaja putri sedang menyantap makanannya sambil sesekali bercanda. selintas terlihat biasa saja dengan kegiatan mereka, namun setelah saya perhatikan dengan seksama, ada satu-dua orang yang menggerakkan tangannya seperti sedang menggunakan bahasa isyarat, 

yah.... benar sekali, mereka menggunakan bahasa isyarat kepada rekannya yang lain, sejenak saya tertegun, sungguh  sangat indah persahabatan mereka, tanpa memperdulikan status sosial, kekurangan atau bahkan cacat yang ada pada diri mereka atau teman2nya, mereka dengan sangat ceria dapat bersenda gurau ditengah orang2 yang mungkin masih memandang sebelah mata terhadap kecacatan mereka...

satu lagi pelajaran berharga yang saya dapat hari itu, semoga kita dapat memetik hikmahnya..... barakallah.

Yogyakarta, 22 Januari 2014





Selasa, 31 Desember 2013

Selamat Tahun Baru 2014




31 Januari 2013 pukul 23.50 local time at petronas twins tower,  hari ketiga saya berada di negeri jiran dalam rangka tugas Combined Maritim Patrol Team (CMPT) bersama dengan TUDM dan Royal Singapore Navy. setelah seharian menahan "air sickness" yg cukup lama di atas selat malaka, saya coba untuk menikmati hari terakhir di negeri ini. setelah puas berjalan-jalan di KLCC sayapun beristirahat di taman air mancur persis di depan Petronas twins tower ditemani sebungkus kentang goreng dan sekaleng pepsi cola. 

pikiran saya mulai menerawang.... beberapa jam lagi saya akan meninggalkan tahun 2013, tahun yang penuh makna, kejutan, suka & duka, romantika dan kehidupan keluarga, karir, bisnis, keimanan hingga perubahan jalan hidup yang begitu dahsyat dan tidak pernah diduga sebelumnya mulai bermunculan di pikiran saya...

kita tidak bisa menentukan takdir, kita hanya bisa berusaha menulis jalan hidup kita, tetapi hanya Allah SWT yang bisa menentukan kelanjutannya, suka maupun tidak suka, apapun alasannya harus dapat kita terima meskipun dengan perasaan yang teramat menggalaukan. 

Satu hal penting yang menjadi catatan saya di tahun yg sebentar lagi akan saya tinggalkan ini, Allah SWT sangatlah sayang pada umatNya, Dia tidak akan meninggalkan hambaNya dalam keterpurukan dan kesedihan karena apa yang kita rasakan itu sebenarnya hanyalah cobaanNya. 

yaaah, kita akan terus dicoba dan diuji sampai sejauh mana kita akan terus mengingatNya, dan Allah SWTpun tidak akan menguji umatNya sampai diluar batas kemampuan seperti apa yang telah dijanjikan dalam Al-Quran, hanya terkadang kita yang tidak mau membuka hati dan pikiran untuk menelaah apa yang terjadi pada kehidupan kita, kita hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa mau berinstrospeksi diri, kita tidak mau mencari tahu apa yang salah pada diri kita, sebaliknya kita akan menyalahkan orang lain atau bahkan lebih parah lagi kita sampai menyalahkan Sang Pencipta atas apa yang terjadi pada diri kita. Baru setelah beberapa waktu berjalan, setelah kita melewati ujian yang diberikan, setelah kita bisa bangkit dari keterpurukan, setelah semua kehilangan kita mulai tergantikan, setelah roda kehidupan mulai berputar keatas, setelah kita mulai diberikan kenikmatan, kita baru berpikir... oooh, ternyata semua akan indah pada waktunya....

yaaaah, semua memang indah pada waktunya, tidak banyak berbeda dengan saya.... di akhir tahun ini, di depan KLCC,  di antara sekian ribu manusia yang meniup terompet tahun baru, diantara ratusan orang yang bersuka cita menyambutnya, mungkin hanya segelintir orang termasuk saya yang menyadari bahwa dengan berakhirnya tahun 2013 dan mulainya tahun 2014 berarti umur kita semakin berkurang, ajal kita semakin dekat dan kematian mulai menghampiri..!!!! apakah kita menyadarinya??? semoga saja...

mari kita mulai berbenah diri, mengawali hari dengan mengucap syukur pada Sang Pencipta, selalu berprasangka baik dan yakin kepadaNya bahwa apa yang dilakukanNya kepada kita semata-mata untuk membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tidak ada kata terlambat untuk kebaikan dan kemaslahatan serta kesempurnaan, bahkan berlian yang paling bernilaipun adalah yang mendapatkan tempaan panas paling tinggi dan paling lama prosesnya.

masa lalu adalah sejarah, hari ini adalah goresan, hari esok adalah harapan. jangan tinggalkan kenangan tanpa menjadi pembelajaran, jadikan harapan sebagai cita-cita dan tujuan agar kita dapat mencapai derajat kemuliaan.

selamat tinggal 2013, selamat datang 2014

barakallah....

Minggu, 20 Oktober 2013

Anak Vespa vs Pengendara Vespa


Saya salah satu pengguna vespa, baik untuk urusan berangkat atau pulang kantor sampai sekedar jalan-jalan keliling komplek mengajak 2 krucils saya menikmati suasana sore hari sepulang kantor. Hampir dua tahun saya memakai vespa untuk segala aktivitas saya, dan setelah sekian lama dengan pengalaman serta pengamatan saya di jalanan, ternyata ada dua kriteria pemakai vespa yang bisa saya simpulkan, yaitu:

1). Anak vespa ----> yang satu ini jelas pemilik dan pengendara vespa, baik vespa keluaran terbaru maupun vespa tahun lama (vba, vbb, vnb, super, sprint, bagol, px, dll). Type yang satu ini ada yang gabung dengan club vespa, ada juga yang mandiri (mungkin belum gabung atau minim pengetahuan ttg club vespa di daerahnya). Tapi walaupun tidak tergabung di club vespa, type anak vespa memegang teguh persaudaraan sesama pengguna vespa. Dia tidak membedakan vespa jenis apa, bentuknya seperti apa, keluaran tahun berapa, yang penting merk vespa ya sudah berarti saudara. Persaudaraan anak vespa seperti ini sangat kuat, saya punya pengalaman yang cukup membanggakan, suatu hari vespa saya kehabisan bensin (vespa lama ga ada indikator bensin) di jembatan semanggi arah cawang, tidak berapa lama lewat satu vespa dan langsung berhenti tatkala melihat saya mendorong vespa menuju pom bensin terdekat. Tidak saya minta dia langsung mengeluarkan selang dan botol aqua dari bagasi vespanya dan menyedot bensinnya untuk diberikan kepada saya, saat saya ingin memberikan uang, dia menolak dan berkata "vespa mania om, kita semua saudara", sesaat saya terharu dengan sikapnya. Pengalaman kedua saat ban belakang saya bocor terkena paku di daerah Tebet, sialnya ban cadangan saya juga dalam kondisi kempes, tidak lama rombongan anak vespa sejumlah empat orang menghampiri dan langsung menolong saya, dua orang membantu mengganti ban, dua lainnya mencari tukang tambal, lagi-lagi saat saya ingin memberikan uang sebagai ganti ongkos tambal mereka menolak, karena tidak enak akhirnya saya ajak makan siomay di pinggir jalan sambil sharing tentang vespa. Dan masih banyak pengalaman saya dengan anak vespa lainnya. Satu hal lagi, kenal maupun tidak, setiap kita bertemu atau berpapasan di jalan, anak vespa akan membunyikan klakson dan melambaikan tangannya sebagai bentuk persaudaraan sesama pengguna vespa, sampai saya memiliki keyakinan seumpama saya nekat naik vespa menuju surabaya dari jakarta tanpa membawa uang sepeserpun, insya Allah saya akan sampai di tujuan dengan selamat hehehehe....

2). Pengendara vespa ----> kalau type yang ini jelas hanya pengendara, tidak ada persaudaraan sama sekali dengan penunggang vespa yang lain. Biasanya para pedagang kelontong yang memakai vespa karena bisa membawa banyak barang dagangan. Atau orang yang kebetulan punya vespa warisan dari keluarganya dan belum mengerti tentang vespa brotherhood, bisa juga orang kaya yang kebetulan suka vespa (kalo ini jelas karena harga vespa baru lebih dari 20jutaan). Mereka semua hanya pengendara yang kebetulan memakai vespa. Untuk membedakannya sangat jelas, kalau ketemu sesama pengendara vespa tidak saling menyapa, kalau ada pengendara vespa kesulitan di jalan ya hanya lewat2 aja tanpa mempedulikan atau paling tidak menanyakan apa kesulitan yang dialami.

Naaaah, sekarang tinggal terserah anda mau menjadi type pengendara vespa yang mana?? Sekalian jadi "anak vespa" atau hanya sekedar pengendara vespa....

Salam vespa mania....

Selasa, 30 Juli 2013

JANGAN TERTIPU PENAMPILAN

Seringkali terjadi dalam kehidupan kita, seseorang dilihat hanya dari penampilannya saja. Banyak contoh yang terjadi di masyarakat kita, belum apa-apa, baru dilihat dari penampilannya saja, seseorang sudah akan mendapat penilaian dari khalayak. Mungkin karena itu juga ada pepatah yang mengatakan "yang penting penampilannya dulu, hasilnya belakangan", walaupun ada juga yang bilang "don't judge a book by its cover". Mungkin ini pula yang mengilhami saya untuk menceritakan sedikit pengalaman yang tentu saja membuat saya tersenyum jika mengingatnya.

Saat ini saya berdinas di Satuan Udara Pertanian KOOPSAU I dan sedang menjalankan mission di Lampung dimana mayoritas penduduk disini menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian dan perkebunan, banyak hal baru yang saya peroleh selama berdinas di sini, mulai mempelajari berbagai kondisi dan lingkungan hidup masyarakatnya, hingga belajar bahasa setempat.

Suatu hari saya mengunjungi salah satu kantor cabang pembantu bank terkenal di Negeri ini, seperti sudah menjadi protap, pak satpam pasti akan membukakan pintu sambil menyampaikan salam dan menanyakan kepentingan kita, entah itu setor, tarik, transfer ataupun berurusan dengan customer service, dilanjutkan dengan mempersilahkan kita untuk duduk menunggu giliran.

Tak lama berselang, datang seorang nenek tua bersendal jepit dengan pakaian khas orang yang sudah sepuh sambil memanggul sebuah karung dengan menggunakan kain jarik lusuh. Pak satpam tetap membukakan pintu dan menyapa sambil mempersilahkan duduk di samping saya tanpa menanyakan apa keperluan beliau. Beberapa orang di sekitar saya kontan langsung menggeser tempat duduknya sedikit menjauhi nenek tersebut. Dalam hati sayapun sempat menebak-nebak, kira-kira nenek ini pekerjaannya mencari botol plastik atau kaleng minuman untuk dijual kembali, mungkin ada sedikit rezeki hingga beliau mau menabung, atau mungkin nenek ini mau membayar cicilan? Pikiran saya pun berkecamuk dengan berbagai pertanyaan yang tak satupun berani saya ajukan kepada beliau. Saya perhatikan beberapa orang juga terlihat memandang sinis kepada beliau hingga menimbulkan simpati saya.

Sampai pada giliran saya menuju teller, saya persilahkan beliau maju terlebih dahulu untuk sedikit menunjukkan kesopanan saya kepadanya. Beliaupun mengucapkan terima kasih dan segera maju sambil menggendong karung yang dibawanya. Belum habis simpati saya, beliau kembali mengejutkan hati saya, karung putih ukuran 50kg yang dibawanya tersebut ternyata berisi uang pecahan Lima Puluh Ribu Rupiah...!!! Kontan saja, tak hanya saya, tetapi seisi ruangan Bank tersebut terkaget-kaget dibuatnya. Sayapu  tidak habis pikir, seorang nenek tua, berpakaian lusuh, membawa karung cukup besar yang ternyata berisi uang pecahan lima puluh ribu rupiah dan tanpa pengawalan sedikitpun. Sampai pada giliran saya berada di teller sebelahnya, mesing hitung uang sudah menunjukkan angka tiga ratus juta lebih. Ternyata beliau baru saja memperoleh sebagian dari hasil panen kebunnya dan bermaksud menabungkannya...

Subhanallah..... Maha Suci Allah yang selalu mengingatkan umatNya dengan berbagai cara.